Inovasi Petani Milenial terus menjadi roda penggerak utama dalam transformasi sektor pertanian Indonesia. Di tengah kekayaan sumber daya alam yang melimpah, komoditas lokal seperti talas (Colocasia esculenta) kini diolah menjadi produk bernilai tinggi yang siap menembus pasar internasional. Kisah inspiratif ini datang dari sebuah kelompok tani muda di kawasan Cisarua, Kabupaten Bogor, yang berhasil mengubah umbi talas lokal menjadi tepung bebas gluten berkualitas ekspor.
Inisiatif luar biasa ini dipimpin oleh Bapak Rizky Firmansyah (28 tahun), seorang sarjana pertanian lulusan IPB University yang memilih kembali ke kampung halamannya. Bersama 15 anggota kelompok tani “Agri Jaya”, mereka memulai proyek percontohan ini pada awal Januari 2025. Sebelumnya, talas Bogor, yang terkenal dengan teksturnya yang padat dan rasanya yang gurih, hanya dipasarkan dalam bentuk segar atau olahan sederhana seperti keripik dan kue bolu. Harga jualnya yang fluktuatif sering kali tidak mampu menutupi biaya operasional para petani. Berangkat dari masalah ini dan melihat tren kesehatan global yang didominasi permintaan akan produk gluten-free, Rizky dan timnya mengembangkan prototipe tepung talas.
Proses pengolahan yang mereka terapkan sangat memperhatikan standar mutu dan kebersihan. Talas yang digunakan adalah varietas unggulan lokal yang dipanen di lahan seluas 4,5 hektar. Setelah panen, umbi talas dikupas, diiris tipis menjadi chips basah, dan dicuci bersih, termasuk melalui proses perendaman khusus untuk menghilangkan getah dan zat kalsium oksalat penyebab rasa gatal. Pengeringan dilakukan menggunakan mesin pengering higienis pada suhu terkontrol selama 12 jam, hingga mencapai kadar air yang dipersyaratkan, yaitu maksimal 10%. Kemudian, chips kering digiling menjadi tepung halus. Seluruh proses ini diawasi ketat oleh petugas dari Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Bogor.
Keunggulan utama tepung talas ini terletak pada sifatnya yang bebas gluten dan memiliki indeks glikemik yang rendah, menjadikannya alternatif yang sangat baik untuk penderita celiac disease, intoleransi gluten, atau mereka yang menjalani diet sehat, termasuk diet diabetes. Kandungan serat pangan yang tinggi pada talas juga dikenal baik untuk kesehatan pencernaan. Dengan kualitas premium, produk ini menarik minat pasar luar negeri.
Pencapaian ekspor perdana kelompok Agri Jaya terjadi pada tanggal 10 September 2025. Kontainer pertama berisi 5 ton tepung talas gluten-free diberangkatkan dari Pelabuhan Tanjung Priok menuju Singapura. Menurut Rizky, keberhasilan ini tidak lepas dari bimbingan dan fasilitasi dari Badan Karantina Pertanian (Barantan) dan dukungan permodalan dari BUMDes setempat. Ia menargetkan peningkatan volume ekspor menjadi 15 ton per bulan ke sejumlah negara lain di Asia Timur dan Eropa. Capaian ini menjadi bukti konkret bahwa inovasi Petani Milenial mampu menciptakan produk pertanian lokal berdaya saing global. Ke depan, mereka berencana untuk terus mengembangkan inovasi Petani Milenial dengan memproduksi turunan lain dari talas, seperti pati dan mocaf talas, untuk memperluas jangkauan pasar dan meningkatkan kesejahteraan petani di Bogor.