Memasuki musim tanam di tahun 2026, tantangan bagi para petani padi di sektor pangan strategis kembali diuji oleh kemunculan organisme pengganggu tanaman yang sangat klasik namun mematikan. Fenomena yang sering disebut sebagai hama sundep atau serangan penggerek batang padi pada fase vegetatif kembali mencatatkan angka yang cukup signifikan di beberapa sentra produksi beras nasional. Sundep bukanlah sekadar gangguan biasa; ia adalah indikator awal bahwa jika tidak ditangani dengan strategi yang tepat, potensi kegagalan panen total akibat “beluk” pada fase generatif akan menjadi kenyataan pahit bagi para petani yang menggantungkan hidupnya dari bulir padi yang bernas.
Secara biologis, sundep disebabkan oleh larva dari ngengat penggerek batang, baik jenis penggerek batang kuning (Scirpophaga incertulas) maupun merah jambu. Larva yang baru menetas dari kelompok telur di ujung daun akan segera merayap turun dan masuk ke dalam jaringan batang padi melalui celah pelepah. Begitu berada di dalam, larva ini akan memakan jaringan pembuluh angkut tanaman (xilem dan floem). Akibatnya, aliran nutrisi dari akar menuju pucuk tanaman terputus total. Gejala yang paling mencolok adalah pucuk daun muda yang layu, menguning, dan mudah dicabut. Jika ditarik, pangkal pucuk tersebut akan terlihat membusuk dan seringkali ditemukan larva kecil yang sedang berpesta di dalamnya.
Kasus yang muncul di tahun 2026 ini menunjukkan adanya pergeseran pola serangan akibat perubahan iklim mikro yang lebih lembap dan tidak menentu. Populasi ngengat dewasa cenderung meledak saat transisi musim, di mana suhu udara yang hangat memicu penetasan telur secara masif. Banyak petani yang terjebak dalam kebiasaan lama dengan menyemprotkan insektisida kimia kontak secara berlebihan. Padahal, penggunaan kimia sintetis justru membunuh musuh alami seperti tawon parasitoid Trichogramma dan Telenomus yang secara alami bertugas menghancurkan telur-telur penggerek sebelum menetas. Inilah yang memicu kasus resistensi hama yang membuat pengendalian menjadi semakin mahal dan sulit dilakukan.